Penduduk Jerman terkenal disiplin dan memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap lingkungan. Kerangka hukum pertama tentang pengelolaan sampah dikeluarkan pemerintah setempat pada abad 19. Sementara undang-undang yang mengatur pemilahan sampah rumah tangga secara komprehensif sudah ada sejak 1972. Sejak itu, setiap rumah menempatkan kontainer dengan warna berbeda-beda untuk masing-masing jenis sampah. Dengan cara itu, pemilahan sampah sudah dimulai dari sumbernya.

Di jalan tol atau Autobahn yang tidak dipungut bayaran apa pun karena sudah dibiayai oleh pajak yang tinggi, pada saat macet, semua mobil serempak akan mematikan mesin. Hal itu mereka lakukan agar tidak menimbulkan polusi suara, polusi udara, dan tentunya agar tidak boros bahan bakar.

Pada Maret 2011 terjadi gempa bumi yang disusul dengan tsunami di Jepang. Salah satu dampak gempa tersebut adalah bencana nuklir Fukushima karena kegagalan sistem pengaman. Bencana nuklir Fukushima berdampak jauh sampai ke Jerman. Kekhawatiran terhadap tenaga nuklir di Jerman sebenarnya sudah marak sejak ledakan reaktor nuklir di Chernobyl, Ukraina, 1986. Bencana Fukushima membuat Jerman bertekad tidak lagi menggunakan tenaga nuklir untuk pembangkitan tenaga listrik.

Perdana Menteri Jerman Angela Merkel pun mencanangkan bahwa negaranya akan menghapuskan pembangkit listrik tenaga nuklir secara bertahap. Mulai 2011 hingga 2022. Targetnya, di tahun itu sudah tidak ada lagi Pembangkit Listrik tenaga Nuklir (PLTN) yang beroperasi di Jerman. Saat kebijakan penghapusan pembangkit tenaga nuklir diumumkan, sekitar 25 persen tenaga listrik di Jerman dihasilkan oleh PLTN. Sebagai pembanding, Perancis, 72 persen sumber listriknya berasal dari sumber tenaga nuklir. Hongaria, negara Eropa yang lebih kecil dari keduanya, 50 persen sumber tenaga listriknya dari PLTN.

Gerakan Energi Terbarukan
Gerakan peduli lingkungan meluas. Muncul gerakan “Energiewende”, yang menentang penggunaan batu bara sebagai bahan bakar PLTU. Pada 2038 ditetapkan sebagai tenggat berakhirnya pemakaian batu bara di Jerman. “Wende” berarti perubahan arah. Jadi, Energiewende adalah perubahan arah dari energi fosil menjadi sumber terbarukan. Saat ini, sekitar 42 persen PLTU di Jerman menggunakan batu bara. Pada saat Perang Dunia II, cadangan batu bara yang melimpah menyelamatkan Jerman dari bencana kekurangan BBM. Saat itu mereka telah menemukan teknologi untuk membuat bensin sintetis dari batu bara.

Menghapuskan batu bara sebagai sumber energi bukan saja merupakan isu lingkungan, melainkan juga menimbulkan persoalan sosial ekonomi. Beberapa kawasan sangat tergantung kepada batu bara. Sumber energi ini tidak dapat ditiadakan begitu saja di Jerman tanpa ada alternatif pengganti. Walaupun mayoritas kalangan bisnis mendukung Energiewende, mereka menantikan kebijakan publik yang jelas untuk menentukan arah kebijakan usaha masing-masing.

Saat energi fosil tidak lagi digunakan, maka Jerman di masa depan akan mengandalkan sumber energi baru dan terbarukan (EBT). Suatu tantangan yang cukup besar, meski sudah banyak kemajuan yang negara itu capai. Dewasa ini 40 persen kebutuhan tenaga listrik Jerman sudah dipasok dari sumber EBT (mayoritasnya tenaga bayu dan surya). Pada 2050 angka ini direncanakan mencapai 80 – 95 persen.

Masalahnya, pemakaian tenaga listrik hanya mencakup sekitar seperlima dari kebutuhan energi Jerman. Bagian yang lebih besar, yaitu empat perlima atau 80 persen kebutuhan energi untuk keperluan pemanasan, pendinginan, dan transportasi. Kebutuhan itu sebagian besar masih mengandalkan sumber tenaga konvensional yang bersumber dari fosil.

Seluruh perdebatan mengenai kebutuhan dan pemenuhan energi Jerman berlangsung di ranah public affairs. Sebagaimana layaknya hal-hal yang terkait kebijakan publik. Tidak terhitung berapa banyak situs web, blog dan media sosial yang muncul dan meramaikan perdebatan. Ada kubu yang mendukung Energiewende, ada pula yang menentang. Semua disertai argumentasi dalam upaya memengaruhi opini publik. Demikian juga perusahaan-perusahaan public affairs ramai berpartisipasi secara aktif dalam perdebatan yang masih akan berlangsung beberapa tahun ke depan ini.

 

Noke Kiroyan
Chairman & Chief Consultant, Kiroyan Partners

Artikel ini telah dipublikasikan di Majalah PR Indonesia Edisi 56|Th V|November 2019, halaman 53.

 

Unduh klipingnya di sini.

share this insight

Share to Facebook Share to Linkedin

let's work together

Tell us about your project brief or just contact us
read other insights