News
Noke Kiroyan: Berhadapan dengan Asing, Buang Mental Inlander
10 February 2011
Oleh Tutut Handayani
Noke Kiroyan, nama yang
tidak asing lagi di kalangan eksekutif, khususnya bidang pertambangan. Dia
adalah orang Indonesia pertama yang ditunjuk oleh pemegang saham perusahaan
pertambangan Rio Tinto untuk memegang pucuk kendali operasional (CEO) di
Indonesia. Saat itu, Rio Tinto ingin berekspansi lahan pertambangan di
Indonesia untuk meningkatkan volume pasar globalnya. Untuk itu, pemegang saham
Rio Tinto yang berkantor pusat di Inggris dan Australia memutuskan menunjuk
orang Indonesia yang benar-benar mengerti situasi dan kondisi Indonesia,
terutama saat berinteraksi dengan orang Indonesia lainnya di sekitar lahan
pertambangan kelak, dan memiliki kemampuan bersosialisasi-interaksi bisnis
dengan para pihak asing. "Itulah alasan mereka memilih saya karena saya dilihat
terbiasa tereksposure dan berinteraksi dengan para pengusaha dan perusahaan
asing di luar negeri," ujar Noke buka kartu.
Noke sebelum bergabung
dengan Rio Tinto itu bekerja untuk Grup Salim dan dipercaya mengelola bisnis
kelompok usaha tersebut yang memasuki pasar Amerika Serikat. Dia menyadari
dirinya belum pernah punya pengalaman memimpin perusahaan pertambangan, tetapi
tahu kemampuan komunikasi, pemahaman untuk menyelami dan menerima perbedaan
(open mind), serta terbiasa berinteraksi dengan multikultural dari berbagai
negara menjadi nilai tambahnya sebagai profesional sehingga mendapat
kepercayaan untuk memimpin multi national company (MNC).
Bagi Noke, wajar jika
seorang pengusaha asing lebih senang menempatkan orang dari negara asal
perusahaan asing tersebut atau menunjuk orang dari kantor pusatnya untuk
ditempatkan di cabang perusahaannya di sebuah negara tertentu. Apalagi untuk
posisi kendali strategis seperti keuangan dan business development. "Hal yang
sama jika pengusaha Indonesia ingin berekspansi ke luar negeri. Pasti, mereka
lebih senang dan nyaman membawa orangnya sendiri untuk ditempatkan sebagai
pimpinan utama di negara tersebut. Mengapa? Karena orang ini dianggap sudah
bisa memahami dengan benar visi, misi, dan arah perusahaan," kata Noke.
Namun, Noke juga
menambahkan pastinya orang yang dipilih dan ditunjuk itu punya kemampuan dan
kompetensi tertentu yang dianggap bisa membuat perusahaan dan dirinya diterima
oleh lingkungan asing di sebuah negara.
Kalaupun ada perusahaan
asing yang beroperasi di Indonesia yang menunjuk orang Indonesia sebagai
CEO-nya itu lebih karena strategi perusahaan tersebut yang ingin memperkuat
penetrasi pasarnya di pasar Indonesia. Artinya, CEO ini dianggap memahami
situasi dan kondisi pasar dan konsumen Indonesia. Contohnya Unilever Indonesia
dan XL.
Jadi, kata Noke
menegaskan sebuah perusahaan asing menunjuk seseorang untuk menjadi CEO-nya di
cabang usahanya di sebuah negara itu jangan mengkotak-kotakan si CEO ini adalah
CEO bawaan dari negaranya atau CEO orang lokal. Namun, lebih kepada kebutuhan
dan selaras pada arah dan strategi perusahaan tersebut.
Namun benang merahnya,
siapapun yang jadi CEO-nya, atau individu yang sudah mencapai level karir
profesional sebagai CEO itu adalah individu-individu yang sudah berhasil
mendobrak batasan multi kultural yang didukung kemampuan komunikasi dua arah
dengan memiliki kemampuan percakapan dalam bahasa Inggris atau asing lainnya
yang selaiknya percakapan biasa dalam kesehariannya. Lalu, kemampuan
beradaptasi dengan perbedaan budaya didukung oleh pola pikir yang terbuka.
Contohnya, jangan mudah tersinggung jika berhadapan dengan orang yang terbiasa
menegur secara to the point, tentu dalam konteks pekerjaan. Umumnya, orang
asing itu terbiasa bicara lugas, langsung, dan apa adanya dalam menyampaikan
pendapat, kritik, atau saran. "Seorang CEO MNC, dimanapun atau di negara
manapun dia berada, sekalipun dia masih di Indonesia adalah individu yang sudah
punya semua nilai tambah yang sudah saya sebutkan. Dia berhasil mengatasi
perbedaan dan beradaptasi dengan lingkungan dimana dia berada. Karena biarpun
dia beraktivitas di Indonesia, dia toh bertemu dengan pihak orang asing, baik
shareholder dan stake holdernya, termasuk media sekalipun. Khususnya untuk MNC
yang mendapatkan eksposure global," ujar Noke.
Namun, jika ingin
berkaca pada keberhasilan orang India yang banyak dipercaya memegang kendali
strategis di berbagai perusahaan asing dunia, Noke melihatnya karena orang
India memiliki karakter yang sangat gigih untuk maju, sangat asertif, percaya
diri yang tinggi sehingga berani beragumen dengan baik, keinginan belajar dan
berkembang yang sangat tinggi dengan selalu self-improvement, tidak mudah puas
dan terlena dengan zona kenyamanan, dan tentu kemampuan berbahasa Inggris yang
sangat baik. "Orang India tetap percaya diri dalam bercakap-cakap dengan bahasa
Inggris biarpun logat dan dialeknya masih kental Indiannya," dia menguraikan.
Menurutnya, individu
dari ras atau negara manapun, ketika dia berhasil dipercaya menjadi CEO MNC itu
lebih banyak diliha pada kompetensi dirinya layak sebagai CEO, bukan asal
negara atau sukunya. Orang Cina yang bisa menjadi CEO MNC itu pasti juga punya
karakter yang sama dengan individu India yang berhasil eksis sebagai pemimpin
perusahaan di manapun perusahaan itu berada, baik di luar atau dalam negaranya.
Begitu pula dengan individu Indonesia. "Terbiasa tereksposure atau besar di
luar negeri itu menjadi nilai tambah tersendiri. Tapi, jangan lupa juga, banyak
orang yang terbiasa di luar negeri, juga malah tidak menjadi apa-apa dan
siapa-siapa. Semuanya kembali pada individunya," tegas Noke.
"Berhadapan dengan orang
asing, buang mental inlander (mental jiwa orang terjajah, red). Kita harus
mampu membangun kesetaraan dalam bertukar pendapat dan bersikap. Jangan
semata-mata dia orang asing, kita perlakukan lebih baik bahkan sampai dalam
pemberian kompensasi atau remunerasi. Khususnya buat perusahaan lokal dalam
meng-hire orang asing. Paket remunerasi itu diberikan lebih kepada ruang
lingkup konsekuensi, resiko, dan jenis pekerjaan plus kompetensi dirinya. Bukan
karena dia orang bule atau lokal," tambahnya. (EVA)
source: www.swa.co.id
http://swa.co.id/2011/02/noke-kiroyan-berhadapan-dengan-asing-buang-mental-inlander/